{"id":493,"date":"2018-06-06T02:43:26","date_gmt":"2018-06-06T02:43:26","guid":{"rendered":"http:\/\/bp2sdm.menlhk.go.id\/bdlhkkadipaten\/?p=493"},"modified":"2018-06-06T02:43:26","modified_gmt":"2018-06-06T02:43:26","slug":"rupiah-tersibak-di-bawah-tegakan-hutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/2018\/06\/06\/rupiah-tersibak-di-bawah-tegakan-hutan\/","title":{"rendered":"RUPIAH TERSIBAK DI BAWAH TEGAKAN HUTAN"},"content":{"rendered":"<p>Majalengka, 19 April 2018 \u2013 KTH Wana Lestari yang terletak di Desa Cipaku Kecamatan Kadipaten berhasil memanen tanaman porang yang mereka tanam sejak tiga tahun yang lalu, tahun 2015. KTH yang diketuai oleh Sidik ini bersama penyuluh kehutanan dari BDLHK Kadipaten, Gugie Nugraha, dalam musyawarah pada 2015 telah mencanangkan ingin menanam tanaman tanaman khas di samping tanaman palawija yang dapat tumbuh di bawah tegakan hutan yang mempunyai nilai tambah tinggi dan tidak rentan terhadap permainan harga tengkulak. Maka dalam musyawarah pertama tersebut mereka memutuskan untuk mencoba jenis tanaman baru yang belum pernah mereka budidayakan sebelumnya, yaitu tanaman porang (Amorphophallus onchophyllus) KTH Wana Lestari di bawah bimbingan BDLHK Kadipaten melalui penyuluh kehutanannya ingin agar hasil panen tanamannya dapat dijual dengan harga yang relatif stabil dan bukan barang substitusi serta mempunyai posisi tawar yang kuat di pasar.<br \/>\nMulanya Penyuluh Kehutanan Pertama dari BDLHK Kadipaten, Gugie Nugraha, berusaha menggali informasi mengenai teknik budidaya, analisis biaya serta pemasaran tanaman porang ke Desa Cupang di Kabupaten Cirebon. Bersama dengan penyuluh kehutanan setempat, Dede Darsono, Gugie melakukan kerja sama dalam tukar informasi dan teknis budidaya tanaman porang untuk dibudidayakan di KHDTK Hutan Diklat Sawala Mandapa Blok Sawala oleh KTH Wana Lestari. Awalnya memang meragukan para petani anggota karena komoditi baru memang akan selalu disangsikan keberhasilannya. Namun sekitar 15 orang petani mau mencoba menanam tanamn ini di samping mereka juga menanam palawija.<br \/>\nTanaman sejenis iles-iles ini mempunyai keunikan tersendiri, apabila musim penghujan tiba maka tanaman ini akan tumbuh dan melakukan perkembangbiakan vegetatif kemudian apabila musim kemarau tiba maka tanaman ini akan berhenti tumbuh atau melakukan dormansi sehingga tidak terjadi baik pertumbuhan maupun perkembangbiakan serta tanaman ini hanya menghasilkan satu umbi selama hidupnya. Kemudian di musim penghujan tahun kedua tanaman ini akan tumbuh dan mulai melakukan perkembangbiakan generatif ditandai dengan munculnya bunga dan di saat yang sama melakukan penyimpanan cadangan makanan pada bagian umbinya. Kemudian pada musim penghujan tahun ketiga tanaman ini akan semakin memperbesar umbinya. Pada organ umbinya inilah yang akan dimanfaatkan petani untuk dijual.<br \/>\nPemanenan biasa dilakukan pada musim kemarau dengan tujuan umbi porang telah tumbuh dengan tuntas sehingga tidak berisiko busuk ketika dalam masa penyimpanan. Uniknya lagi selama tiga tahun penanaman tersebut tanaman ini tidak membutuhkan perawatan yang berarti, setiap tahunnya tanaman ini hanya butuh disebarkan bulbil\/kataknya di samping tanaman induknya sebagai tanaman calon untuk dipanen pada periode panen berikutnya sehingga setelah tiga tahun pertama para petani akan dapat terus-menerus memanen setiap tahunnya. Minim perawatan menandakan dalam budidaya ini minim pula biaya yang harus dikeluarkan. Bulbil\/katak ini muncul di bagian ketiak daun dan cabang.<br \/>\nPemanenan dilakukan selama 4 hari (16 s.d 19 April 2018) dari lahan di bawah tegakan hutan dengan luasan sekitar 2000 m2. Dari sekitar 150 kilogram umbi bibit tanaman porang yang mereka tanam pada 2015 berhasil dipanen di tahun 2018 sejumlah 2485 kg. Artinya umbi tanaman ini mampu tumbuh menjadi sekitar 16 kali dari umbi bibit yang ditanam. Umbi bibit yang dipakai berukuran 8-10 biji per kilogram sehingga kurang lebih terdapat 1200 \u2013 1500 umbi yang ditanam. Harga umbi porang basah saat ini (franco tepi jalan) adalah Rp 2000. Hasil panen ini dijual kepada pengumpul untuk kemudian dikirimkan ke pabrik penepungan porang di Jawa Timur. Pada Sabtu pekan ini (28 April 2018) akan dilaksanakan Sosialisasi Budidaya Tanaman Porang di KTH Wana Lestari untuk melanjutkan perjanjian kerja sama antara pihak petani dengan pengumpul hasil tani agar usaha budidaya tanaman porang semakin terjamin kepastian pasarnya.<br \/>\nRencanannya KTH Wana Lestari ingin memperbanyak penanaman jumlah umbi dan berupaya memperluas area penanamannya di KHDTK Hutan Diklat Sawala Mandapa Blok Sawala. Diharapkan upaya ini mampu secara bertahap meningkatkan taraf hidup anggota KTH Wana Lestari sehingga tujuan pengelolaan kawasan hutan bersama masyarakat dapat terwujud, hutan lestari masyarakat sejahtera.<\/p>\n<p>Salam Rimba Raya Lestari Masyarakt Sejahtera<\/p>\n<p>Gugie Nugraha<br \/>\nPenyuluh Kehutanan Pertama BDLHK Kadipaten<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/bp2sdm.menlhk.go.id\/bdlhkkadipaten\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_095651-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" class=\"alignnone size-medium wp-image-494\" srcset=\"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_095651-300x169.jpg 300w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_095651-768x432.jpg 768w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_095651-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_095651-265x150.jpg 265w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/bp2sdm.menlhk.go.id\/bdlhkkadipaten\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_102255-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" class=\"alignnone size-medium wp-image-495\" srcset=\"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_102255-300x169.jpg 300w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_102255-768x432.jpg 768w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_102255-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_102255-265x150.jpg 265w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/bp2sdm.menlhk.go.id\/bdlhkkadipaten\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_112345-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" class=\"alignnone size-medium wp-image-496\" srcset=\"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_112345-300x169.jpg 300w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_112345-768x432.jpg 768w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_112345-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_112345-265x150.jpg 265w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/bp2sdm.menlhk.go.id\/bdlhkkadipaten\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_112403-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" class=\"alignnone size-medium wp-image-497\" srcset=\"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_112403-300x169.jpg 300w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_112403-768x432.jpg 768w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_112403-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_112403-265x150.jpg 265w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/bp2sdm.menlhk.go.id\/bdlhkkadipaten\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_114527-169x300.jpg\" alt=\"\" width=\"169\" height=\"300\" class=\"alignnone size-medium wp-image-498\" srcset=\"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_114527-169x300.jpg 169w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_114527-768x1365.jpg 768w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_114527-576x1024.jpg 576w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_114527-300x533.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 169px) 100vw, 169px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/bp2sdm.menlhk.go.id\/bdlhkkadipaten\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_135504-169x300.jpg\" alt=\"\" width=\"169\" height=\"300\" class=\"alignnone size-medium wp-image-499\" srcset=\"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_135504-169x300.jpg 169w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_135504-768x1365.jpg 768w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_135504-576x1024.jpg 576w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_135504-300x533.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 169px) 100vw, 169px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/bp2sdm.menlhk.go.id\/bdlhkkadipaten\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_1405381-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" class=\"alignnone size-medium wp-image-500\" srcset=\"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_1405381-300x169.jpg 300w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_1405381-768x432.jpg 768w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_1405381-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180417_1405381-265x150.jpg 265w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/bp2sdm.menlhk.go.id\/bdlhkkadipaten\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154104-169x300.jpg\" alt=\"\" width=\"169\" height=\"300\" class=\"alignnone size-medium wp-image-501\" srcset=\"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154104-169x300.jpg 169w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154104-768x1365.jpg 768w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154104-576x1024.jpg 576w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154104-300x533.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 169px) 100vw, 169px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/bp2sdm.menlhk.go.id\/bdlhkkadipaten\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154453-169x300.jpg\" alt=\"\" width=\"169\" height=\"300\" class=\"alignnone size-medium wp-image-502\" srcset=\"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154453-169x300.jpg 169w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154453-768x1365.jpg 768w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154453-576x1024.jpg 576w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154453-300x533.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 169px) 100vw, 169px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/bp2sdm.menlhk.go.id\/bdlhkkadipaten\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154506-169x300.jpg\" alt=\"\" width=\"169\" height=\"300\" class=\"alignnone size-medium wp-image-503\" srcset=\"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154506-169x300.jpg 169w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154506-768x1365.jpg 768w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154506-576x1024.jpg 576w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_154506-300x533.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 169px) 100vw, 169px\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/bp2sdm.menlhk.go.id\/bdlhkkadipaten\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_160708-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" class=\"alignnone size-medium wp-image-504\" srcset=\"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_160708-300x169.jpg 300w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_160708-768x432.jpg 768w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_160708-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/IMG_20180419_160708-265x150.jpg 265w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Majalengka, 19 April 2018 \u2013 KTH Wana Lestari yang terletak di Desa Cipaku Kecamatan Kadipaten berhasil memanen tanaman porang yang mereka tanam sejak tiga tahun yang lalu, tahun 2015. KTH yang diketuai oleh Sidik ini bersama penyuluh kehutanan dari BDLHK Kadipaten, Gugie Nugraha, dalam musyawarah pada 2015 telah mencanangkan ingin menanam tanaman tanaman khas di&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":495,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-493","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/493","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=493"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/493\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":505,"href":"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/493\/revisions\/505"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/495"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=493"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=493"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sdmhutkadipaten.bp2sdm.kehutanan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=493"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}